Khutbah Idul Adha : Dua Pelajaran Kurban Nabi Ibrahim AS.

Pelaksanaan Penyembelihan Hewan Kurban.

Khutbah Pertama :

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,  
Hari ini tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari yang istimewa untuk umat Islam seluruh dunia. Seluruh umat Islam merayakannya dengan penuh khidmat dan bersuka ria, serta gembira. Saudara-saudara kita yang memenuhi panggilan Allah untuk menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Makkah, Arafah, Muzdalifah, dan Mina. 
Walaupun dengan perasaan kecewa, bahwa jema'ah dari Indonsia tahun ini tidak dapat berangkat untuk menunaikannya. Dikarenakan tersekat oleh wabah Virus Corona 19 yang belum juga sirna. Tetapi niat yang ikhlas semata karena Allah, mudah-mudahan akan diberikan pahala yang yang tidak kurang dengan apa yang dilaksankan oleh saudara-saudara kita yang dapat melaksanakannya di Makkah tersebut.  

Maka kepada umat Islam yang sudah ada niat dan kesemapatan berangkat namun terhalang, dan kepada yang belum Allah panggil karena sebab kemampuan finansial dsb, marilah kita kerjakan ritual Idul Adha. Yakni Shalat Idul Adha berjama'ah di masjid ataupun shalat berjam'ah di rumah dengan keluarga. Lalu dilanjutkan untuk menyembelih hewan qurban hingga berakhirnya pada hari tasyrik, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. 

Untuk saudara-saudara kita dari negara lain yang masih bisa melaksanakan haji di tanah suci Makkah, mari kita doakan mudah-mudahan diberi kesehatan kemudahan dalam melaksanakan ibadah haji dengan penuh kekhidmatan dan kesempurnaan. Semoga menjadi haji mabrur yang tidak hanya mengantarkan mereka menjadi pribadi yang shaleh saja, tetapi juga muslih. Baik secara individu, sekaligus dapat menebarkan kebaikan kepada masyarakat.

Semoga momentum Idul Adha menjadi sarana perbaikan ketaqwaan kita kepada Allah Ta'ala. Menjadi sarana bagi seorang muslim untuk semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah individu atau sosial, karena inilah tujuan dari Idul Adha yang kita jalani setiap tahun.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,  
Syeh Ahmad Al-Jurjawi dalam kitabnya "Hikmatut Tasyri' wa Falsafatuh" menjelaskan, kurban pertama kali dilaksanakan pada masa Nabi Adam AS, oleh putra-putranya yaitu Qabil dan Habil. Kekayaan yang dimiliki Qabil mewakili kelompok petani, sedangkan Habil mewakili kelompok peternak. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur'an sebagai berikut : 

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang mereka berdua (Habil) dan tidak diterima yang lain (Qabil)". (QS, Al.Maidah : 27). 
 
Para ahli tafsir menyatakan, peristiwa yang dilakukan dua bersaudara dari putra Adam AS, merupakan solusi dari polemik perang dingin yang terjadi antara keduanya dalam mempersunting wanita cantik rupawan bernama Iklimah sebagai pasangan hidup yang berasal dari saudara kembar laki-laki dan perempuan.

Kisah Kurban berikutnya adalah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS ketika diperintahlah Allah Ta'ala untuk menyembelih Nabi Ismail AS putra kesayangan yang telah lama diimpikan kelahirannya.  Perintah ini hanya merupakan ujian dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS atas keimanannya. Karena pada akhirnya yang yang disembelih adalah domba/kambing yang telah digantikan/dihadiahkan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim AS.  Perintah spektakuler itu di abadikan dalam Al-Qur'an sebagaimana firman-Nya : 
"Ibrahim berkata : Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?. Ismail menjawab : Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Isnya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar". (QS, As-Shaffat  : 102)

Selain kedua peristiwa kisah kurban Adam As dan Ibrahim AS, ritual kurban terus berlanjut di setiap budaya dan peradaban. Dan ini terus berlangsung dilakukan oleh umat manusia, walaupun dalam bentuk dan praktek yang berbeda-beda. Puncaknya adalah mengorbankan jiwa manusia sebagai persembahan kepada yang dianggap Tuhan yang memiliki kekuatan. 

Sejarah mencatat dahulu masa pra-Islam, di Mesir jika air sungai Nil surut, maka penduduk Mesir menggelar upacara mengambil anak gadis untuk dijadikan tumbal agar airnya melimpah kembali. Tradisi seperti ini juga dikenal oleh masyarakat Nusantara seperti kita dengar adalah cerita-cerita budaya masyarakat Nusantara. 

Ketika Nabi Muhammad SAW diutus, ada penegasan ajaran kurban yang dilegalkan adalah seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. Yakni dengan menyembelih kambing, sapi, unta dan hewan sejenisnya. Sebagaimana firman Allah berikut : 
"Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak". (1) Maka laksanakan shalat karena Tuhanmu. (sebagai ibadah dan mendekatkan diri pada Allah). (2). Sungguh orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)" (3). (QS, Al-Kautsar : 1-3)

Kenapa peristiwa Nabi Ibrahim yang dijadikan model kurban dalam ajaran Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam?. Tentu karena di dalamnya ada hikmah keteladanan yang sangat agung.  
Dari Nabi Ibrahim AS umat Islam dapat belajar bagaimana melakukan ibadah kurban yang baik dan benar. Pelajaran tersebut dapat kita peroleh setidaknya ada dua hal. 

Pelajaran Pertama : dalam beragama ada keadaan dimana kita harus meninggalkan akal pikiran kita. Me-ngesampingkan Rasionalitas, kemudian beralih pada ketundukkan serta kepasrahan total kepada ilahi Robbi. Dalam kajian hukum Islam dikenal hukum yang bersifat Ta'aqquli dan Ta'abbudi. 

Ta'aqquli artinya masuk akal. Yakni ketika suatu syariat dibebankan, dan manusia dapat menerima dengan nalar karena sesuai dengan kemampuan berfikir manusia.  Contohnya Allah memerintahkan sedekah, zakat, menolong sesama, berbakti kepada kedua orangtua. Allah melarang mencuri, menipu, korupsi, konsumsi narkoba, membunuh, pergaulan bebas dan semacamnya. Semuanya ini adalah sesuai dengan naluri dan akal sehat manusia. 

Sedangkan Ta'abbudi adalah hukum yang dogmatis. Tidak dapat dinalar di luar kemampuan akal manusia. Cohtoh; Aturan tentang shalat, puasa dan haji adalah bagian dari urusan yang bersifat Ta'abbudi. Kita tidak dapat mempertanyakan apalagi menggugat kenapa shalat Dhuhur, Ashar, dan Isya' empat raka'at, sedangkan Maghrib tiga raka'at dan Subuh dua raka'at. Rasionalis  dikesampingkan karena yang ada hanyalah kepasrahan dan kepatuhan total sebagai seorang hamba yang rindu untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Tuhannya. 

Sebagaiman Nabi Ibrahim ketika menerima perintah-Nya untuk menyembelih Ismail, bahwa perintah itu adalah dogma yang harus dilaksanakan secara paripurna.  
Maka atas dasar keimanannya Nabi Ibrahim AS tanpa berpikir panjang siap melaksanakan perintah tersebut. Rasionalitas dimatikan, yang ada hanyalah ketundukkan akan perintah Allah. 
Ini menunjukkan tingginya kwalitas keimanan dan ketaqwaan Nabi Ibrahim AS, sehingga sangat pantas jika beliau mendapat gelar Khailullah (kekasih Allah). 

Belajar dari Nabi Ibrahim maka sudah sepantasnya setiap orang yang berkurban melaksanakan seperti Nabi Ibrahim AS ketika berkurban. Maka segera berkurban ketika sudah mampu dan laksanakan segera. 

Berkurban atas dasar tunduk dan patuh menjalankan perintah Allah, seraya berharap cinta kasih dan ridha dari Allah. Bukan ingin dipuji, karena gengsi, atau bertujuan untuk meningkatkan status sosial. 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,  
Pelajaran Kedua ; Dari teladan Nabi Ibrahim AS bisa kita dapatkan dari pengalihan kurban manusia menjadi domba/kambing. Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya hanya sekedar ujian keimanan, bukan perintah sesungguhnya dalam rangka menyembelih putranya. Hal ini sekaligus menjadi kritik sosial dari tradisi tumbal di berbagai budaya dan peradaban.  

Sejarah kurban Nabi Ibrahim AS mengajarkan kepada kita bahwa kurban dalam Islam adalah ajaran humanis. Untuk menyembah Allah tidak boleh membahayakan diri sendiri apalagi orang lain. 
Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radiyallahu anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda  لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ Artinya : Tidak boleh membahayakan untuk kepentingan pribadi, dan tidak boleh mencegah orang lain mendapat kebaikan. 

Dalam Islam setiap bahaya harus dihilangkan. Bahkan untuk mendatangkan suatu kebaikan atau menghilangkan suatu bahaya, tidak boleh menimbulkan bahaya lain. Ini adalah satu prinsip utama dalam ajaran Islam. Kaidah Fiqih menyebutkan لضَّرَرُ يُزَالُ  Artinya :"Setiap mudarat harus dihilangkan" اَلضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِالضَّرَرِ   Artinya : "Suatu mudarat tidak dapat dihilangkan dengan mudarat yang lain".
Dari sini maka seharusnya ajaran kurban menginspirasi setiap muslim untuk tidak hanya sholeh secara mental, tetapi juga sholeh secara sosial. 

Menjaga hubungan kepada Allah dan kepada manusia (hablum minallah wa hablum minannas) bahkan pada alam sekitarnya. Sebab jargon Islam adalah agama ramah bukan marah. Hal ini harus dapat ter-implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun dalam kurban ada darah hewan yang dialirkan, namun bukan tujuan atau penilaian utama, karena yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan dari orang-orang yang melaksanakannya. Allah berfirman dalam Al-Quran sebagai berikut : 
"Daging-daging unta dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS, Al-Hajj : 37). 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah, 
Inilah dua pelajaran yang dapat kita petik dari contoh kurban yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. Semoga menjadi media yang dapat meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Ta'ala, serta menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk terus berjihad mewujudkan Islam yang Rahmatan lil 'alamin. Aamin, aamiin ya robbal 'alamin. 

Khutah Kedua.  

-----------------"-----------------

0 Response to "Khutbah Idul Adha : Dua Pelajaran Kurban Nabi Ibrahim AS. "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel