Seputar Bulan Syawal Dan Keutamaan Yang Terkadung di Dalamnya.

Seputar Bulan Syawal dan Keutamaan di Dalamnya.
Rasiyambumen.com Kajian Khazanah Islam (kategori posting Aqidah)
Pembaca budiman, Bimbingan dan Ridha-Nya semoga selalu tercurah serta mengiringi kita dalam segala aktivitas di dunia untuk meraih kebahagiaan dan mengharapkan Rahmat-Nya di Akhirat kelak. Aamiin...

Bulan Ramadhan telah meninggalkan kita, semoga selama sebulan penuh kita dapat amalkan puasa wajibnya serta sunah-sunah yang terdapat didalam. Mudah-mudah Rahmat, Maghfirah, Itqun Minan Nar, dapat kita raih sehingga menjadi manusia bertaqwa. Waktu terus berputar hingga bergantilah dengan bulan Syawal, yang juga tidak kalah saratnya (penuh) dengan kebaikan-kebaikan yang ada di dalamnya, yang terkadang kita tidak sadari itu. Marilah kita bersama-sama mengulas aneka ragamnya bulan Syawal tersebut. 

Ibnul Allan Asy Syafi'i mengatakan : "Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat-al Ibil yang maknanya unta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dinamai demikian, disebabkan dahulu orang-orang Arab sebelum Islam, sudah menjadi tradisi menggantungkan alat-alat perang mereka, dikarenakan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, (suci) yaitu bulan larangan untuk berperang". (Dalil Al-Falihin li Syarh Riyadh al-Shalihin-karya Muhammad bin 'Allan Al-Siddiqi al-Syafi'i al Maliki).

Ada anggapan bahwa bulan Syawal adalah bulan sial.
Anggapan bulan Syawal adalah bulan sial hal ini adalah sangat keliru mengapa anggapan ini terjadi, karena memang sejak jaman orang-orang Arab jahilliyah sebelum Islam datang pada bulan Syawal telah menganggap segala apa yang akan diperbuat menjadi sial. Sehingga mereka melarang seperti;  acara pernikahan juga termasuk yang dilarang pada bulan Syawal ini. Mereka menganggap bahwa bulan ini para wanita menolak untuk dinikahi sebagaimana yang dia gambarkan/samakan dengan unta betina yang menolak sambil sya-lat (mengangkat) ekornya setelah didekati unta jantan.

Untuk membantah bahwa bulan Syawal itu dianggap sial, maka Rasulullah SAW. menikahi 'Aisyah, radiyallahu anha  di bulan Syawal tersebut. Sesuai hadits Bukhari & Muslim di bawah ini :
"'Aisyah, radiyallahu anha mengatakan ; Nabi SAW. menikahiku pada bulan Syawal dan beliau tinggal satu rumah denganku juga di bulan Syawal. Siapa diantara istri beliau yang lebih beruntung dari pada aku". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ada catatan yang kita harus pahami. 
Banyak orang yang beranggapan bahwa bulan Syawal adalah bulan peningkatan, "dalam arti peningkatan amal kebaikan". Sebab pendapat itu didasari dari makna bahasa kata "Syawal"  yang diartikan peningkatan. Tetapi kurang tepat jika dikatan demikian, sebab mengapa bulan ini dinamakan Syawal adalah karena seusai Ramadhan, manusia melakukan amal kebaikan untuk melanjutkan atau meningkatkan amal baik setelah Ramadhan.
Hal ini disangkal oleh sebagian ulama, sebab bulan Syawal sudah ada sejak zaman Jahilliyah (sebelum datangnya Islam), sementara masyarakat jahilillyah belum mengenal syari'at puasa di bulan Ramadhan. Maka dengan  demikian, tidak terdapat hubungan antara makna bahasa tersebut dengan pemahaman bulan Syawal adalah bulan peningkatan dalam beramal. Wallahu'alam.

Hadits Shaheh seputar bulan Syawal. 
1. Nabi SAW. bersabda : "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal maka itulah puasa satu tahun" (HR. Ahmad dan Muslim).
2. 'Aisyah, radiyallahu anha mengatakan : "Biasanya Rasulullah SAW, 'iktikap di hari terakhir bulan Ramadhan. Aku buatkan kemah untuk beliau. Setelah selesai shalat subuh, beliau memasukinya. Kemudian Hafsyah (istri Nabi yang lain) minta izin kepada 'Aisyah untuk membuat kemah juga, Aisyah-pun mengizinkan. Ketika Zainab melihatnya dia-pun ikut membuat kemah. Dipagi harinya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam melihat ada banyak kemah. Beliau bertanya kepada istri-istrinya "Apa-apan ini". Lalu Rasulullah SAW memberitahu kepada para istrinya "Apakah kalian menganggap ini baik?". Kemudian Beliau tidak 'itikaf di bulan itu (bulan Ramadhan), dan beliau 'itikaf pada sepuluh hari di bulan Syawal".(HR. Bukharti & Muslim).
3.'Aisyah, radiyallahu anha mengatakan ; "Nabi SAW. menikahiku pada bulan Syawal dan beliau tinggal satu rumah denganku juga di bulan Syawal. Siapa diantara istri beliau yang lebih beruntung dari pada aku". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Amalan Sunnah di dalam bulan Syawal. 
1. Shalat Hari Raya (Idul Fitri) di Lapangan. 
Ummu Athiyah radiyallahu anha mengatakan : "kami diperintahkan untuk mengajak keluar gadis yang baru baligh, gadis-gadis pingitan, dan orang-orang haid, untuk menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha". (HR. Al-Bukhari & Muslim).
2. Puasa Sunnah 6 hari  "Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal maka itulah puasa satu tahun" (HR. Ahmad dan Muslim).
Tata Cara Puasa Enam Hari di bulan Syawal. 
Ulama berbeda pendapat tentang tata cara yang paling baik adalam melaksanaklan puasa 6 hari di bulan Syawal :
Pendapat Pertama, dianjurkan untuk menjalankan puasa puasa syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan syawal pada tanggal duanya (2) hingga tanggal 7 (tujuh) di bulan Syawal. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi'i dan Ibnul Mubarok . Pendapat ini didasari sebuah hadits, namun haditsnya lemah, tetapi masih dapat diamalkan karena rawi dan sanadnya masih sampai pada Nabi SAW.
Pendapat Kedua, Tidak ada perbedaan dalam keutamaan, antara yang dilakukan secara berturut-turur maupun yang dialakukan dengan secara terpisah-pisah. Pendapat ini adalah pendapat Imam Waki' dan Imam Ahmad.
Pendapat Ketiga, Tidak boleh melaksanakan puasa persis pada hari raya Idul Fitrinya. Karena hari itu adalah hari raya minum dan makan, setelah kita berpuasa satu bulan penuh. Namun sebaiknya puasanya 6 hari itu, dilakukan sekitar di tengah bulan Syawal. Ini adalah pendapat Ma'mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha'. (Latahiful Ma'arif , hlm : 244)

Masih dalam amalan sunnah di bulan Syawal. 
Dianjurkan bagi orang yang terbiasa melakukan 'itkaf, kemudian karena sesuatu hal lain, dia tidak dapat melakukan 'itikaf di bulan Ramadhan maka dianjurkan untuk melaksanakannya di bulan Syawal, sebagai bentuk qadla sunnah. Inilah hadits yang menerangkannya :
'Aisyah, radiyallahu anha mengatakan :"Biasanya Rasulullah SAW, 'iktikap di hari terakhir bulan Ramadhan. Aku buatkan kemah untuk beliau. Setelah selesai shalat subuh, beliau memasukinya. Kemudian Hafsyah (istri Nabi yang lain) minta izin kepada 'Aisyah untuk membuat kemah juga, Aisyah-pun mengizinkan. Ketika Zainab melihatnya dia-pun ikut membuat kemah. Dipagi harinya Nabi shalallahu 'alaihi was sallam melihat ada banyak kemah. Beliau bertanya kepada istri-istrinya "Apa-apan ini". Lalu Rasulullah SAW memberitahu kepada para istrinya "Apakah kalian menganggap ini baik?". Kemudian Beliau tidak 'itikaf di bulan itu (bulan Ramadhan), dan beliau 'itikaf pada sepuluh hari di bulan Syawal".(HR. Bukharti & Muslim).
Abu Thayib abadi mengatakan, 'Itikaf beliau di bulan Syawal sebagai ganti (qadla) untuk 'iktikaf bulan Ramadhan yang beliau tinggalkan. (Aunul Ma'bud -syarah Abu Daud, 7/99).
Membangun Rumah Tangga (campur antara suami istri). Inilah hadits yang mendasarinya :
Aisyah, radiyallahu anha mengatakan ; "Nabi SAW. menikahiku pada bulan Syawal dan beliau tinggal satu rumah denganku juga di bulan Syawal. Siapa diantara istri beliau yang lebih beruntung dari pada aku". (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

An-Nawawi mengatakan, dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menikah dan membangun rumah tangga (campur) di bulan Syawal. Para ulama madzhab kami (Syafi'iyah) menegaskan anjuran hal ini. Dan mereka berdalil dengan hadits ini... (Dikutip dari Tahfatul Ahwadzi, 4/182).
Diantara hikmah dianjurkannya menikah di bulan Syawal adalah menyelisihi/membantah keyakinan dan kebiasaan masyarakat jahilliyah.
Imam An-Nawawi mengatakan, Tujuan 'Aisyah, radiyallahu anha menceritakan hal ini adalah dalam rangka membantah anggapan jahilliyah dan keyakinan tahayul orang awam di zamannya. Mereka membeci acara pernikahan di bulan Syawal, karena diyakini akan membawa sial. Ini adalah keyakinan yang salah, tidak memilki landasan, dan termasuk kebiasaan jahilliyah dimana mereka beranggapan sial, dengan bulan Syawal. (Dikutip dari Tahfatul Ahwadzi, 4/182).

Awas Hati-hati dengan Hadits Dhaif (Lemah) hingga Palsu. 
1. Hadits : "Barangsiapa yang shalat pada malam idul fitri, di raka'at pertama dia membaca Al-Fatihah sekali dan surat Al-Ikhlas sepuluh kali.... (Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam al-Mudlu'at, 2/130 dan Asyaukani dalam Al Fawaid Al-Majmu'ah, hal. 52).
2. Hadits : "Siapa yang shalat empat raka'at seolah dia telah membaca semua kitab yang Allah turunkan kepada para Nabi-Nya". (Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam al-Maudlu'at, 2/130 dan As-Syaukani dalam al-Waid Al-Majmu'ah, hal.52).
3. Hadits : "Termasuk sunnah, shalat 12 raka'at setelah shalat Idul Fitri, dan enam raka'at setelah Idul Adha". (Hadits palsu sebagaimana keterangan As-Syaukani dalam al-Waid Al-Majmu'ah hal. 52). 
4. Hadits : "Siapa yang menghidupkan empat malam (dengan beribadah) maka dia wajib masuk surga, (1)malam tarwiyah (tgl, 8 Dzulhijjah), (2) malam arafah, (tgl, 9 Dzulhijjah), (3) malam Idul Adha, dan (4) malam Idul Fitri".  (Hadits palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam al-Ilal Al-Mutanahiyah, 2/78 , dan al-Albani dalam silsilah hadits Dhaif).
Keempat hadit di atas itu semuanya termasuk hadits Dhaif bahkan dinyatakan palsu. Semoga kita berhati-hati.
Ada beberapa perbuatan Bid'ah di bulan Syawal.
Pertama : Anggapan sial terhadap bulan Syawal. Orang-orang jahilliyah menganggap bahwa bulan Syawal adalah bulan sial. Anggapan ini didasari kepada unta yang tidak mau kawin ketika bulan Syawal. Unta betina menolak dengan mengangkat ekornya ketika didekati unta jantan. Umul Mukminin 'Aisyah, radiyallahu anha. telah membantah anggapan ini dengan menceritakan pernikahan dirinya dengan Nabi shalallahu alaihi wa sallam. Sehingga setelah Islam datang Nabi SAW. dan para sahabat, menghilangkan tahayul jahilliyah ini.
Kedua : Keyakinan sebagian orang yang mengkhususkan dianjurkannya menghidupkan malam Id. Sebagian kaum muslim masih ada yang menganjurkan menghidupkan malam Id. Mereka berdalil dengan sebuah hadits : "Barangsiapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adha, maka hatinya tidak akan mati, dimana semua hati itu pada mati. "Hadits ini adalah hadits yang Dhaif (lemah). Hadits ini memiliki dua jalur, yang satu statusnya maudlu (palsu), dan satunya lagi dhaif sekali. Sebagaimana penjelasan Syeik Al-Albani.
Oleh karena itu tidak diperbolehkan mengkhususkan malam Idul Fitri itu, untuk sesuatu ibadah apapun. Karena akan menganggap adanya keistimewaan satu malam tertentu untuk beribadah, jika dilakuka tanpa dalil yang shaheh adalah bid'ah.

Demikian uraian pendek dari materi "Seputar Bulan Syawal Dan Makna yang Terkandung di Dalamnya". Semoga bermanfaat dan menambah wawasan khazanah keislaman kita. Aamiin...    

0 Response to " Seputar Bulan Syawal Dan Keutamaan Yang Terkadung di Dalamnya. "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel