Asbabun Nuzul Ayat 23 - 24, Surat Al-Kahfi Tentang Kata "Insya Allah"



Rasiyambumen.com Kajian Khazanah Islam (Kategori Posting Asbabun Nuzul)
Pembaca budiman, Rahmat serta Bimbingan-Nya semoga selalu tercurah dan mengiringi kita dalam segala aktivitas di dunia ini untuk meraih kebahagiaan dan mengharap Ridho-Nya di Akhirat kelak. Aamiin... 

Surat Al-Kahfi ayat 23-24 memuat firman Allah yang memberi peringatan kepada Nabi Muhammad SAW dan tentunya kepada kita sekalian agar jangan ngatakan terhadap sesuatu; "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi", tanpa mengucapkan "insya Allah" inilah yang menjadi asbab turunnya ayat 23-24 surat Al-Kahfi (18).
Sebelum kita menguraikan dengan lebih lengkap bagaimana asbabun nuzulnya alangkah baiknya kita tengok terlebih dahulu mukadimah tentang Surat Al-Kahfi ini.

Surat Al-Kahfi ini terdiri atas 110 ayat termasuk golongn surat-surat Makiyyah. (yang diturunkan di Makkah). Dinamai Al-Kahfi artinya Gua dan Ashabul Kahfi yang artinya Penghuni gua. Kedua nama ini diambil dari kisah yang terdapat dalam surat ini pada ayat 9 sampai dengan 26 tentang beberapa orang pemuda yang tidur dalam gua bertahun-tahun lamanya. Selain kisah tersebut terdapat pula beberapa buah kisah dalam surat ini yang kesemuanya mengandung i'tibar atau pelajaran yang amat berguna bagi kehidupan manusia. Banyak hadits-hadits Rasulullah saw. yang menyatakan keutamaan membaca surat ini.
Pokok-pokok Isinya :
1. Keimanan :
Kekuasaan Allah swt. untuk memberi daya hidup pada manusia di luar hukum kebiasaan; dasar-dasar Tauhid serta keadilan Allah swt. tidak berobah untuk selama-lamanya kalimat-kalimat Allah (ilmu-Nya) amat luas sekali meliputi segala sesuatu, sehingga manusia tidak mampu untuk menulisnya. Kepastian datangnya hari berbangkit ; Al-Qur'an adalah kitab suci yang isinya bersih dari kekacauan dan kepalsuan.
2. Hukum-Hukum.
Dasar hukum wakalah (berwakil) larangan membangun tempat ibadah di atas kubur; hukum membaca "Insya Allah", perbuatan salah yang dilakukan karena lupa adalah dima'afkan; kebolehan merusak suatu barang untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar.
3. Kisah-Kisah :
Cerita Ashabul Kahfi; cerita dua orang laki-laki yang seorang kafir dan yang lainnya mukmin, cerita Nabi Musa a.s. dengan Khidir a.s. cerita Dzulukarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj.
4. Dan Lain-lain.
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari cerita-cerita dalam surat ini, antara lain tentang kekuatan iman kepada Allah swt. serta ibadah yang ikhlas kepada-Nya; kesungguhan seseorang dalam mencari guru (ilmu), adab sopan-santun antara murid dengan guru; dan beberapa contoh tentang cara memimpin dan memerintah rakyat,, serta perjuangan untuk mencapai kebahagiaan rakyat dan negara.

Marilah kita mulai mengupas tentang sebab turunnya firman Allah swt. ayat 23-24 Surat Al-Kahfi, terkait dengan "Isya Allah". Di bawah ini adalah ayat yang akan kita bahas :
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : "Sesungguhnya aku akan mengerkakan itu besok pagi." (QS, (18) Al-Kahfi : 23. 
"Kecuali (dengan menyebut) "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-mu jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang leih dekat kebenarannya daripada ini". (QS (18) Al-Kahfi : 24). 

Di dalam Al-Qur'an surat di atas, Allah menyebutkan secara khusus kata "Insya Allah" ini berarti sangat besar dan penting maknanya. Asbabun Nuzul dari ayat tersebut dalam kitab Asbabun Nuzul yang disusun oleh KH. Q.Shaleh dan kawan-kawan (1995 sebagai berikut : 

Suatu hari, kaum Quraisy mengutus an-Nadlr bin al-Harts dan Uqbah bin Abi Mu'ith menemui seorang pendeta Yahudi di Madinah untuk menanyakan kenabian Muhammad. Lalu kedua utusan itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan sikap, perkataan dan perbuatan Muhammad. Lalu pendeta Yahudi berkata, "Tanyakanlah kepada Muhammad akan tiga hal. Jika dapat menjawabnya ia Nabi yang diutus. Akan tetapi jika tak dapat menjawabnya, ia hanyalah orang yang mengaku sebagai Nabi.
Pertama, tanyakan tentang pemuda-pemuda pada zaman dahulu yang bepergian dan apa yang terjadi kepada mereka. 
Kedua, tanyakan juga tentang seorang pengembara yang sampai ke Masyriq dan Maghrib dan apa yang terjadi padanya. 
Ketiga, tanyakan pula kepadanya tentang roh.  

Pulanglah utusan itu kepada kaum Quraisyi. Lalu mereka berangkat menemui Rasulullah saw. dan menanyakan ketiga persoalan tersebut diatas. Rasulullah saw. bersabda "Aku akan jawab pertanyaan kalian besok" Rasul menyatakan itu tanpa disertai kalimat "Insya Allah". 
Setelah itu Rasulullah saw. menunggu-nunggu wahyu sampai 15 malam, namun Jibril tak kunjung datang. Orang-orang Makkah mulai mencemooh dan Rasulullah saw sendiri sangat sedih, gundah gulana, dan malu karena tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada kaum Quraisy. Dalam keadaan yang demikian datanglah Jibril membawa wahyu yang menegur Nabi saw. karena telah memastikan sesuatu pada esok hari, tanpa mengucapkan "Insya Allah" (QS, al-Kahfi (18) : 23-24). 
Dalam kesempatan itu juga Jibril menyampaikan tentang pemuda-pemuda yang bepergian, yakni Ashabul Kahfi (QS (18) : 9-26), seoarang pengembara, yakni Dzulkarnain (QS (18) : 83-101), dan perkara roh (QS (17) : 85). 

Riwayat lain dari kitab Asbabun Nuzul, Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-ayat Al-Qur'an. 0leh KH Q.Shaleh, H.A.A. DAHLAN dan Prof Dr. H.M.D. DAHLAN. menerangkan sebagai berikut : 
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi saw. pernah bersumpah. Setelah empat puluh malam  barulah Allah menurunkan ayat ini (QS (18) Al-Kahfi 23-24) yang memperingatkan agar apabila bersumpah, hendaknya diikuti dengan ucapan "Insya Allah" .
Ket. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Adl-Dlahhak dan Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas. 

Mufassir Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Kitab Jaami'ul Bayan menjelaskan, Inilah pengajaran Allah kepada Rasulullah saw. agar jangan memastikan suatu perkara akan terjadi tanpa halangan apa pun, kecuali menghubungkannya dengan kehendak Allah SWT. 

Sungguh Agung makna dari kata "Insya Allah" itu. Di dalamnya mengandung makna minimal 4 hal yang sangat penting. 
Pertama : manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah Swt.
Kedua : menghindari kesombongan karena kesuksesan yang dicapai, (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial). 
Ketiga : menunjukkan ketawadu'an (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT. 
Keempat. bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik. 

Di dalam kisah lain juga terjadi hal seperti ini, yang dialami oleh Nabi Sulaiman a.s. Rasulullah saw. bersabda : Sulaiman bin Daud a.s. pernah berkata ; Sungguh aku akan menggilir seratus istriku pada malam ini. Semuanya akan melahirkan anak yang ahli berkuda yang akan berjuang di jalan Allah. Lalu sahabat Sulaiman a.s. berkata kepadanya : "Katakanlah "Insya Allah" tetapi Nabi Sulaiman tidak mengatakan Insya Allah. Ternyata akhirnya dari semua istrinya tersebut yang hamil hanya seorang instri, itupun hanya melahirkan separuh anak (anak yang cacat fisiknya). Demi dzat yang menguasai jiwaku, seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, pastilah mereka semua akan berjuang di jalan Allah sebagai pasukan berkuda" (HR. al-Bukhari dan Muslim). 
Sabda Nabi tersebut sesuai dengan firman Allah SWT  sebagai berikut : 
"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang (lemah karena sakit), kemudian dia bertobat". (QS, (38) : 34). 

Dari kisah di atas dapat kita ambil ibrah, bagaiman para nabi dan rasul yang merupakan wali-wali Allah pun masih diajarkan beradab kepada Allah untuk mengatakan isnya Allah ketika mencita-citakan sesuatu, apalagi kita yang manusia biuasa. Semoga dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Aamiin...

Demikian uraian Asbabun Nuzul Ayat 23-24 Surat Al-Kahfi terkait kata Insya Allah. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita dalam mempelajari Al-Qur'anulkarim.  

Baca juga yang ini : 

0 Response to "Asbabun Nuzul Ayat 23 - 24, Surat Al-Kahfi Tentang Kata "Insya Allah" "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel