Keharusan Menjaga Persatuan Sesuai FirmanNya Dalam Qur'an Surat Ali Imran Ayat 101 -103.


 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kajian Islam (katagori posting Asbabun Nuzul)
Pembaca budiman, seiring doa semoga Allah Swt. selalu melimpahkan Rahmat, Kasih sayang dan bimbingan kepada kita sekalian dalam segala aktivitas di bumi ini semata hanya untuk menghambakan diri KepadaNya.

Rasiyambumen/Pelangi Khazanah Islam memposting Asbabun Nuzul Surat Ali Imran ayat 101 -103.  

Akhir-akhir ini khususnya umat Islam Indonesia dan pada umumnya bangsa ini, sering terjadi saling tuding dan menyalahkan antara yang satu dengan lainnya, hanya karena berbeda persepsi dalam pemahaman beragama, sehingga hampir-hampir menimbulkan perpecahan antar pemeluk agama. Bahkan dengan satu keyakinanpun terjadi saling tuduh dan saling membenarkan pendapat masing-masing.

Bangsa Arab yang terdiri berbagai suku, di Masa Jahiliyyah (sebelum Islam hadir)  hampir tidak pernah ada kedamaian, persatuan, sepanjang masa antar suku yang ada pada masa itu. 
Bahkan ada dua suku yang mendominasi bangsa Arab waktu itu yaitu Suku Aus dan Suku Khazraj, kedua suku ini konon sudah 120 tahun tidak pernah bersatu hingga akhirnya dapat dipersatukan oleh Utusan Allah: Muhammad Saw, dengan melaksanakan Ajaran Islam yang sangat mulia.

Baca juga yang ini : Perintah Mengumumkan Pernikahan Adalah Sunnah

Perintah Allah Keharusan Menjaga Persatuan. 
Pada surat Ali Imran ayat 101 seolah Allah menanyakan kepada kalian semua mengapa kamu bisa menjadi kafir padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu. Lengkapnya Ayat ini adalah sebagai berikut :

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ ءَايٰتُ اللَّـهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُۥ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّـهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَىٰ صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ (آل عمران ١۰١
"Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu?. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS Ali Imran : 101) 
Saat ini memang Rasulullah sudah tidak ada di tengah-tengah kita tetapi para pewaris anbiya adalah Ulama-ulama besar sebagai penerus perjuangan Islam karena sampai pada akhir zaman-pun musuh-musuh Islam tetap masih akan ada. Maka Allah dengan tegas memerintahkan kita Mengharuskan Menjaga Persatuan. 

Lalu Allah berpesan kepada orang-orang yang beriman harus benar-benar bertakwa kepada Allah Swt.
Firman Allah dibawah ini menjelaskan betapa pentingnya kita tetap menjaga iman kita dengan sebenar-benarnya :
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اتَّقُوا۟ اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (آل عمران١۰٢
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam". (QS Ali Imran : 102)

Kenali tentang  : JIWA MANUSIA

Maksudnya, Taqwa secara etimologis, berarti waspada diri dan takut. Sedang taqwa secara terminologis adalah melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan mejauhi larangan Allah sebagaimana yang dilarang oleh Allah. 

Adapun para Sahabat Nabi saw. memahami arti "haqqa tuqatih" sebagaiman sabda Nabi saw, yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawai dari Abdullah Ibnu Mas'ud sebagai berikut :

"haqqa tuqatih"adalah hendaknya Dia ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak dingkari dan diingat tidak dilupakan, (HR Al-Hakim).

Dan yang dimaksud "walaatamutunna illaa wa antum muslimun" adalah : janganlah seseorang itu meninggal melainkan ia harus berbaik sangka terhadap Allah Swt. hal ini sesuai hadits Nabi Saw. berikut :

"Jangan seorang diantara kamu mati melainkan ia harus berbaik sangka terhadap Allah Swt." (HR.Muslim).

Selanjutnya pada pada Surat Ali Imran Ayat 103 Allah berfirman sebagai berikut : 
وَاعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ اللَّـهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَاذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ اللَّـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّـهُ لَكُمْ ءَايٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(آل عمران١۰٣  
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh-musuhan maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni'mat Allah orang-orang yang bersaudara : dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk". (QS Ali Imran : 103)

Pengertian Tali Allah : "bihablillah"  dalam ayat tersebut adalah Al-Qur'an sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardaweh dari Abdullah Ibnu Abbas, sebagai berikut :

"Sesungguhnya Al-Quran ini adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang menerangi, obat penyembuh yang berguna, pelindung bagi yang berepegang kepadanya, dan aman bagi yang mengikutinya". (HR. Muslim).

Baca juga : Anda Pengurus DKM Masjid? Sebaik Baca Tulisan di Bawah 
Dengan demikian dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Quran sebagai dasar dalam membina ketenteraman dan keharmonisan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang dimaksud dengan "Fa 'alla baina qulubikum"  yaitu mengharmoniskan atau mempersatukan hati kamu, menunjukkan betapa kuat jalinan kasih sayang dan persatuan mereka, karena yang diharmoniskan oleh Allah bukan hanya langkah-langkah mereka, tetapi hati mereka. Dan kalau hati mereka telah menyatu, maka segala sesuatu ringan dipikul dan segala kesalahpahaman (jika seandainya muncul) maka akan mudah diselesaikan. Memang yang penting adalah kesatuan hati dan kebersamaan ummat, dalam berjuang di jalan Allah, bukan kesatuan organisasi, atau kelompok.

Tiga (3) ayat tersebut di atas turun, berkaitan dengan kisah sebagai berikut :

Pada zaman jahiliyyah (sebelum Islam),  ada 2 (dua) suku yaitu : Suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan turun-temurun selama 120 tahun. Permusuhan kedua suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad Saw, mendakwahkan Islam kepada mereka, pada akhirnya Suku Aus, yakni kaum Anshar dan Suku Khazraj hidup berdampingan, secara damai dan penuh keakraban. Suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santainya dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan. Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang "Bu'ast" yang pernah terjadi antara Suku Aus dengan Suku Khazraj, lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling caci maki dan mengangkat senjata. Untunglah Rasulullah Saw, yang mendengar berita itu segera datang dan menasehati mereka : "Apakah kalian termakan fitnah jahiliyyah itu, bukakankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan Jahiliyyah?"

Setelah mendengar nasehat Rasulullah, mereka sadar, lalu menangis dan saling berpelukan.  
Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk dan sekaligus sebaik-baik peristiwa. 
Diriwayatkan oleh al-Faryabi dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.    

Demikian Asbabun Nuzul Surat Ali Imran ayat 101 s/d 103 berdasarkan hadits dengan riwayat shoheh yang bersumber dari Ibnu Abbas. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita, sehingga pengamalan beragama yang mulia ini dapat diamalkan dengan ikhlas hanya semata mencari ridha dari Allah Swt. Aamiin...

0 Response to "Keharusan Menjaga Persatuan Sesuai FirmanNya Dalam Qur'an Surat Ali Imran Ayat 101 -103. "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel